Skip navigation

Arsip Bulanan: Desember 2010

Tulisan ini hanyalah merangkum tulisan Sam Ardi Semoga Prita Mulyasari yang Terakhir…, yang intinya merangkum beberapa fakta persidangan Prita terkait pemeriksaan ahli M. Yasin Kara (versi lengkap bisa dibaca di dalam tulisan Sam Ardi di atas):

[...]

* Bahwa benar jabatan ahli di Tim Pansus pembentukan UU ITE adalah:

1. Sebagai Wakil Ketua Panitia Khusus (PANSUS) RUU ITE
2. Sebagai Ketua Panitia Kerja (PANJA) perumus RUU ITE.

[...]

* Bahwa benar PANSUS RUU ITE tidak pernah mengangkat Dewan Pakar, sementara keterlibatan ahli dilakukan sesuai dengan tema bahasan yang sifatnya berdasarkan permintaan rapat dan eksistensi kehadirannya dibatasi pada tingkat rapat yang telah ditentukan.

[...]

* Bahwa benar ahli tidak pernah lihat ataupun bertemu dengan Roy Suryo dalam merumuskan UU ITE

Sementara dalam pemberitaan tvOne bertajuk Roy Suryo Ajukan Diri Jadi Saksi Ahli Prita, Roy tanpa diminta menjadi saksi ahli oleh JPU mengajukan dirinya sendiri sebagai saksi ahli dengan alasan:

alasan Roy mengajukan diri sebagai saksi ahli dikarenakan pria yang aktif di Partai Demokrat itu adalah salah seorang anggota tim penyusun UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ada beberapa hal yang menarik untuk diungkapkan di sini. Pertama, Roy Suryo tidak pernah diminta oleh siapapun untuk menjadi saksi ahli dalam persidangan Prita. Sebuah usaha mencari popularitas yang cukup murah, tidak perlu bayar biro iklan, tapi otomatis diliput banyak media karena persidangan Prita ini termasuk salah satu kasus high profile di tahun 2009. Ini cukup menggambarkan betapa beliau memang ahli menjadi saksi, dan bukannya jadi saksi ahli.

Kedua, saksi ahli M. Yasin Kara, yang menjabat Wakil Ketua PANSUS RUU-ITE dan Ketua PANJA perumus RUU-ITE tidak pernah lihat atau bertemu dengan Roy Suryo dalam merumuskan UU ITE. Wow. Padahal dari pemberitaan tvOne dia akhirnya bisa muncul di persidangan justru karena pengakuannya menjadi anggota perumus UU ITE. Mana yang benar nih?

Kali ini beritanya dari situs berita Kapanlagi, Roy Suryo Jengkel Tak Jadi Saksi Ahli Kasus Ariel:

Maaf saya mengirim SMS panjang ini karena menengarai adanya something wrong dalam persidangan-persidangan kasus Ariel. Nama saya sering disebut-sebut selaku saksi ahli IT di sidang namun sampai sekarang meski JPU beberapa kali menelpon secara lisan, tidak satu pun surat resmi/panggilan saya terima dari PN Bandung. Lucunya kemarin justru ‘ahli saksi IT’ si RBZ yang mana jelas-jelas orang ini adalah ‘mirip pakar‘ yang selalu dipakai OCK L,

OCK L tentu saja berarti OC Kaligis, tapi siapa RBZ yang divonis sebagai ‘mirip pakar‘ oleh Roy Suryo? RBZ adalah Ruby Z Alamsyah, seorang pakar forensik digital, pemegang sekian banyak sertifikasi bidang IT yang sayangnya, tidak satupun dimiliki oleh Roy Suryo.

Berikut adalah hanya sebagian dari seluruh sertifikasi yang dimiliki oleh RBZ, saya ambil dari tulisan Sam Ardi yang berjudul Sosok Ruby Zukri Alamsyah dalam Percaturan ICT:

  1. Certified Ethical Hacker (CEH) sejak tahun 2005 yang mengambil sertifikasi dari Ec-Council
  2. Ec-Council Sertified Security Analyst (ECSA) sejak tahun 2008 dari Ec-Council
  3. Certified Ec-Council Instructor (CEI) sejak tahun 2007 dari Ec-Council
  4. Computer Hacking Forensic Investigator (CHFI) sejak tahun 2007 dari Ec-Council
  5. Qualification of Cisco Certified Internet Working Expert tahun 2002 oleh Cisco Certification
  6. Licenced Penetration Tester (LPT) tahun 2008 dari Ec-Council
  7. Microsoft Certified System Engineer

Bagaimana dengan Roy Suryo? Menemukan CV Roy Suryo itu mudah sekali, tinggal googling saja. Berikut ini adalah salah satu hasilnya dari situs Indowebster, saya saring untuk sertifikasi yang berhubungan dengan teknologi informasi saja:

  • Tidak ada

Apa? Tidak ada sertifikasi satu pun? Lalu mengapa beliau bisa dijadikan saksi ahli tanpa satu pun sertifikasi yang menjamin integritas dan kredibilitas keahlian yang diklaim oleh beliau?

Mengutip kata-kata beliau sendiri, masih dalam berita yang sama:

menghimbau agar rekan-rekan pers selaku 4th stage of communication & pihak-pihak yang masih punya nurani bisa mengawal terus kasus ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Insya Allah

Saya setuju dengan beliau, hanya orang-orang yang masih punya nurani yang tahu siapa yang sebenarnya mirip pakar dan cuma ahli jadi saksi, dan bukan menjadi saksi ahli.

Apa tuh yang 10 sampai 25 watt? Daya lampu bohlam? Ternyata bukan itu yang dimaksud oleh Roy Suryo, melainkan daya laser hijau yang dipergunakan oleh supporter Malaysia saat pertandingan bola AFF di sana. Dalam pemberitaan VIVAnews “Roy Suryo: Supporter Malaysia Pakai Laser Gun“, dikutip pernyataan beliau:

“Ini dayanya cukup besar, sekitar antara 10 sampai 25 watt. Jaraknya bisa mencapai sekitar 400 sampai 500 meter. Apalagi kalau difokuskan, akan lebih sangat bahaya,” kata Roy.


Besar kemungkinan beliau memang keliru antara laser dengan lampu bohlam. Laser consumer grade yang dijual untuk umum kekuatan paling besarnya adalah 1 W, yang dijual di Wicked Lasers. Tapi memang itu laser berwarna biru, untuk yang berwarna hijau, yang paling kuat yang saya temukan adalah 500 mW, di situs Dealextreme. Laser dengan kekuatan 10 W sampai 25 W digunakan untuk keperluan micro machining, dan amat sulit dibuat menjadi portabel karena masalah energi dan disipasi panas.

Lalu sebenarnya berapa kekuatan laser yang dipergunakan oleh supporter Malaysia tersebut? Andika memberitahukan bahwa laser dengan kekuatan hanya 5 mW dari jarak 365 meter bisa mengganggu pilot di bandar udara. Jadi tidak butuh kekuatan sampai 10 W untuk mengganggu penglihatan, cukup 5 mW pun sudah bisa mengganggu konsentrasi pemain bola.

Akhir kata, mohon pihak media sekali lagi melakukan cross check setiap kali melibatkan narasumber yang sangat diragukan seperti Roy Suryo. Beliau bahkan tidak tahu seberapa besar mesin laser yang dibutuhkan untuk menghasilkan laser berkekuatan 25 W, mungkin beliau mengira sama besarnya dengan sebuah lampu bohlam 25 W.

Tidak usah lebay atau berlebihan menanggapi WikiLeaks,

demikian kutipan ucapan Roy Suryo terhadap isu WikiLeaks di Vivanews, yang memang sedang santer dibicarakan di dunia internasional.

Namun yang patut disoroti adalah ucapan beliau berikutnya:

Jangankan WikiLeaks, Openleaks, atau Indoleaks, situs Wikipedia saja informasinya belum tentu seratus persen dapat dipercaya karena bisa di-up load oleh siapa saja,

Tampaknya beliau tidak tahu kalau WikiLeaks itu metode editorial-nya tidak sama dengan Wikipedia, yang membebaskan setiap orang untuk mengedit artikel yang ada dalam wiki tersebut. Berbeda dengan Wikipedia, WikiLeaks tidak membebaskan sembarang orang bisa mengedit artikel yang ada di sana.

Memang sudah terlalu sering beliau mengucapkan banyak hal yang sebenarnya beliau tidak tahu atau tidak pahami, seperti yang banyak didokumentasikan di blog ini. Sayangnya, masih banyak yang tidak tahu ketidak-kompetenan anggota dewan yang terhormat ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.