Skip navigation

Kemarin saya sudah gentle menanggapi tantangan dialog blogger, ternyata mereka yang selama ini vokal, sedikit yang datang,” sesal Roy dalam SMS yang diterima detikINET, Sabtu (12/4/2008). Roy pun memaparkan dirinya telah berupaya keras untuk bisa datang. “Rektor Universitas Budi Luhur, Profesor TB Ronny, juga hadir,” tambahnya

begitulah pemberitaan di detik yang punya headline Roy Suryo Sesalkan Hanya Sedikit Blogger Vokal Datang Berdialog. mungkin beliau memang tidak tahu bahwa blogger itu manusia biasa juga, dan ada yang punya pekerjaan seperti orang normal. atau ada juga yang memandang pekerjaannya lebih penting ketimbang harus mendengarkan celotehan beliau yang tidak pernah bisa menjawab pertanyaan tanpa berbelit-belit. apalagi dengan cara beliau yang sering mengubah jadwal diskusi, ke jam 9 pagi di hari kerja, yang jelas-jelas membuat orang-orang yang sudah bekerja sulit datang, ditambah hari itu adalah hari jumat, hari yang singkat. priyadi sendiri tidak bisa datang karena jadwal yang terlalu sering diubah.

namun bukan itu inti pembahasan saya. saya hanya ingin memperlihatkan seberapa dalam cengkeraman beliau ke media masa indonesia. hanya dengan mengirimkan SMS, beliau bisa diberitakan dan bahkan isi SMS-nya bisa jadi headline. sekarang, siapa yang berani bilang beliau tidak mungkin jadi mr. charlatan-nya indonesia?

About these ads

31 Comments

  1. yak.. adalagi blogger konsonan nantinya..
    setelah ada blogger vokal..

  2. wah, saya kaget betul mas baca headline detikInet itu. sombong bener yah…

    Ini kutipan dari komen di Blog saya oleh Riza:

    “Wah itu kok kesannya ingin menunjukan power bahwa bagaimanapun media nanti pasti akan balik kepada Mas Roy lagi…

    Roy cuma tersenyum lalu bilang, ” itu kan menurut Mas aja toh?”.”

    Arogan. Dia senang karena anda sudah berpikir seperti apa yang dia inginkan anda pikir.

  3. Lah, itulah taktik membuat blogger vokal tidak bisa datang. Blogger konsonan memang tau apa?
    Apa sih, yang diketahui heker dan blogger tentang taktik perang merebut perhatian media massa?

  4. Revisi blogger code gih, based on RSC code. Contoh sementara: Ryosaeba(v-) = blogger vokal, negatif. Riyogarta(k-). Nunggu celotehan berikutnya buat kita pelintir jadi joke. Hush :).
    Tapi paling asyik tentu kalau ada blogger putih, hitam, dan abu2. Jadi ada AdyPermadi(v- #666666) –> kelabu tapi banyakan hitamnya :p :p :p.

  5. Membuatku berpikir untuk segera banting setir. Jadi blogger konsonan sangat positif aja ah. Pas sama K++

  6. ehm… mau kemana bangsa ini..
    kalo hanya sibuk urusin ocehan yg alasan teknisnya nggak jelas…

    seharusnya lebih fokus membahas masalah UU ITE dan implementasinya…harus banyak dialog antara pemerintah dg para blogger.

    biar kebebasan berekspresi tetep terjaga… tapi dampak negatifnya bisa ditanggulangi bersam,a…..

  7. aduh apaan nih.. mas kun.. nama saya dibawa-bawa…
    huehauheuaea..

  8. he he he, jadi ramai gara2 mas “roy”.

  9. :mrgreen: saya jadi ketawa terguling guling nih baca ni post.. :mrgreen:

    barangkali memang benar itu orang punya daya cengkram luar biasa terhadap pers indonesia. cukup dengan sms sudah jadi headline :mrgreen:

    jadi pasti tu orang berpeluang amat sangat besarnya jadi mr charlatan indonesia terganteng :mrgreen: dengan senyum amat manis :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

    yang jadi pertanyaan yang bikin saya nyengir lebih lebar dari nyengir kuda :mrgreen: :mrgreen: adalah :

    sesungguhnya manakah yang benar ?

    1. daya cengkaram rs terhadap pers yang luar biasa? bahkan sampai-sampai sms pun bisa menjadi headline?

    atau :

    2. pers indonesia yang kelewat-an sablengnya? mau-maunya terus-terusan dicekoki ama tu pakar? bahkan setelah pers indonesia di-kambing-hitam-kan oleh rs sendiri? terus-terusan mengutip dia?

    ah… pagi hari yang indah… diiringi nyengir lebih lebar dari nyengir kuda :mrgreen: :mrgreen:
    :mrgreen: mohon maaf kalo komen saya terasa kasar, tajam, ga asik dll :mrgreen:

  10. Ah media masa indonesia…
    Apakah tidak tergelitik mereka ini untuk mencari tahu banyak hal dari blogger langsung? Tidak sekedar tunggu sms doang dari…siapa tuh?

  11. Sepertinya kalangan blogger juga harus memberi kode kepada media atau wartawan mas Koen, misal detik(m-) :))

    Kelihatannya detik bukan termasuk ‘beberapa’ media yang sudah menetapkan aturan untuk tidak lagi mengutip RS dalam beritanya.

  12. Memang manusia yang satu itu banyak lagunya…

    Dia bisa ngetop itu karena faktor lucky saja krn pd suatu moment dia angkat vokal.

    papar teman saya, Andai “media massa” tahu bahwa ilmunya si roy yang satu itu tidak ada apa-apanya dibanding yg benar-benar ahli dibidangnya.

    Dan sekali lagi, kalo media massa mau sedikit “most wanted”, banyak ditemuin kalo ilmu setara si roy itu mah….

  13. Dengan Hormat, sekedar sumbang saran nih..

    Sepertinya keputusan untuk mempergunakan atau tidak mempergunakan seseorang sebagai narasumber memang banyak berada di redaksi media masing-masing.

    Saya kira Indonesia tidak kekurangan pakar ataupun praktisi didalam berbagai bidang. Andai saja mereka mau mencari lebih jeli. Andai saja mereka mau ambil waktu lewat pemuatan pendapat seseorang yang sungguh memang pakar dibidangnya secara konsisten beberapa saat, tentunya seseorang tersebut akan lebih dikenal dan diakui.

    Kalau di dunia pasar modal, saya sering lihat banyak analis ataupun ekonom yang dimintai pendapatnya, secara rutin. Lama-lama orang tahu bahwa ya dia pakar untuk makro ekonomi, ya di pakar untuk analisa teknikal, ya dia pakar untuk analisa finansial fundamental, ya dia pakar hukum persereoan dan pasar modal dstnya dstnya…

    Media biasanya tidak berkeberatan mencantumkan institusi tempat narasumber mereka bekerja. Tapi saya pernah mengetahui ada redaksi yang enggan untuk memuat pendapat seseorang yang sungguh pakar, karena pakar tersebut juga memiliki pekerjaan di media cetak yang mengulas mengenai teknologi audio namun tidak berada didalam satu grup penerbitan (atau semacamnya) jadi urung dimuat..

    Pertanyaan selanjutnya yang perlu dilihat juga adalah, apakah keahlian, keterampilan, pengetahuan dan kepakaran seseorang akan berkurang kalau dia tidak berada di bawah institusi tertentu? Tentu tidak bukan?

    wah melebar kemana-mana,

    intinya dua saja saran saya:

    1. Mengirim surat kepada PWI maupun AJI untuk mengingatkan anggota-anggotanya untuk menegakkan kode etik jurnalisme, termasuk himbauan kehati-hatian didalam memilih nara sumber.

    2. Membuat sebuah website lain, mungkin blog, mungkin juga berbentuk wiki misal saja: narasumberpakar.wordpress.com yang isinya memuat daftar orang-orang Indonesia yang tidak terangkat ke media, yang memang memiliki keahlian, pengetahuan, keterampilan, pengalaman — so called kepakaran dalam bidangnya masing-masing. Sehingga pers bisa semakin mudah dalam mencari narasumber. Banyak sekali forum-forum, milis-milis, kelompok studi universitas serta lembaga riset swasta di luar/dalam negeri yang “menyembunyikan” banyak pakar asal Indonesia sesungguhnya..

    Mudah-mudahan dapat terwujud.

    lelah saya membaca terlalu banyak kata pakar akhir-akhir ini.

    Salam,

    Hanindyo

  14. Terkesan Sombong Dan arogan karena hanya gentle sekali saja . . . JAwab 1 pertanyaan saja bisa berbelit banget . emang jago berkelit seperti belut padahal waktu habis di bicara dia doang yg berbelit2

    Top Makrotop

  15. RS harus merenungkan peribahasa ini :
    AYAM BERKOTEK TANDA TAK JANTAN

  16. Mungkin media massa melihat dengan mata sebelah? :P

  17. haiiiiiiiiiiiiiiiiii
    boleh gabung engga

  18. Sya yakin syakin yakinnya kalau beliau sang pakar itu telah melakukan riset penelitian secara mendalam dan pastinya sudah bertahun-tahun lamanya untuk menyimpulkan klasifikasi blogger.. Postif, negatif dan vokal..

    Namun sayangnya riset itu hanya dalam mimpi.. Hehehehe

  19. Ada blogger vokal.. ada blogger konsonan :)

  20. Itulah Fenomena mas :)

  21. Jadi ingat pendapat seorang pakar bahwa siapa yang menguasai media komunikasi, maka dialah yang menguasai dunia :(

  22. waduh dasarrr belut… licin…
    media juga sablenk

  23. blogger gitaris
    blogger drummer
    blogger bassis
    blogger band :D

  24. berarti RS gak pernah baca blog saya, gak semua blogger negatif boz…..!!!

    RS banyak omong, ato mungkin dia aja pengen ngetop…maEN SINETRON AJA PAK

  25. penting banget giti mikirin roy suryo?????

  26. Dalam dunia polling (baca demokrasi) seperti sekarang, memang even Silent majority nggak pernah diperhitungkan. Kita nggak fighback ya dianggap nggak berarti dan pengecut.
    Gimana kalo kita juga tantang balik media sediakan waktu khusus untuk itu supaya nggak ada lagi yang ngebacot ini – itu tanpa di fightback terlebih dahulu. Saya pikir atraksi ini bisa ngalahkan rating sinetron dan fitna, hehehe

  27. tuntut aje bos..

  28. Roy suryo sok tau,…yang anehnya ko dia pula jadi ref para wartawan…kalo cuma gituan banyak tuch orang yang bisa, ngapain pula harus Roy suryono, haha…udah ngomong ga jelas, berbelit belit lagi…huuuuh

  29. Hebat kali dia, pake SMS ja bisa jadi headline..jangan caya dia

  30. “Blog Vocal” Blog Cepu…blog barat …blog timur…klo Mas Roy sendiri blog apa..?………………..

    BLogOn alis bloooooon lo….alias…hahahhaha


3 Trackbacks/Pingbacks

  1. By | Dampak Dialog Terbuka | Catatan on 13 Apr 2008 at 1:38 pm

    [...] tidak akan membahas mengapa detikinet masih tetap mau melakukan hal tersebut, bahkan detikinet juga membuat headline hanya berdasarkan sebuah SMS. Namun yang menarik adalah munculnya isitilah baru yakni Blogger Vokal. Apakah ini pengganti untuk [...]

  2. By Dampak Dialog Terbuka on 18 Apr 2008 at 7:37 pm

    [...] tidak akan membahas mengapa detikinet masih tetap mau melakukan hal tersebut, bahkan detikinet juga membuat headline hanya berdasarkan sebuah SMS. Namun yang menarik adalah munculnya isitilah baru yakni Blogger Vokal. Apakah ini pengganti untuk [...]

  3. [...] memang beliau tahu kebanyakan bloggers adalah pekerja kantoran, mengapa beliau sengaja menentukan waktu diskusi dengan bloggers di pagi hari saat masih hari kerja? setelah memaju-mundurkan jadwal diskusi (jadwal ditentukan satu arah berdasarkan kesanggupan [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: